My Telkomsel tidak bisa dibuka

My Telkomsel

Baru kesampaian mau sharing, beberapa minggu yang lalu saya dibuat galau karena aplikasi MyTelkomsel di ponsel saya tidak berfungsi, loading aja di screen merah logo telkomsel.




Mau cek kuota, cek bonus, beli paket, dll jadi terhambat (padahal gak pernah beli paket disitu 😝)

Saya ingat-ingat terakhir aplikasi ini berjalan normal seperti biasa sebelum saya update, setelah saya update ya jadinya gak bisa dibuka. Saya pikir masalah jaringan, besok-besok dicoba lagi, ehh tetep gak bisa.

Akhirnya dapat pikiran buat uninstall apk-nya. Terus download lagi, instal lagi, Ya Allah masih teteeeep gak bisa. Terus saya coba aja balikin ke versi sebelumnya, versi old, versi 3.9.0, saya donwload di website, bukan di playstore. Akhirnya bisaaaaa....alhamdulillah, berfungsi normal seperti sedia kala.

Saya simpulkan, ternyata ponsel saya gak support sama versi terbaru, hehehe, waktu itu saya pakai zenfone 5, udah bertahun-tahun saya pakai zenfone 5. Tua ya? whahahaha

Sekarang udah ganti ponsel, teteeep asus, tapi My telkomsel gak pernah saya update lagi wkakakaka, tetep pakai versi old.
Semoga bermanfaat.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Blog apa ini? empunya mana? wkakakak




 WARISAN
Tulisan siapa sih ini? mari lupakan siapa yang memulainya, siapa yang menulisnya.

Baca isinya saja, lalu pikirkan.

Kebetulan saya lahir di Indonesia dari pasangan muslim, maka saya beragama Islam. Seandainya saja saya lahir di Swedia atau Israel dari keluarga Kristen atau Yahudi, apakah ada jaminan bahwa hari ini saya memeluk Islam sebagai agama saya? Tidak.
Saya tidak bisa memilih dari mana saya akan lahir dan di mana saya akan tinggal setelah dilahirkan.

Kewarganegaraan saya warisan, nama saya warisan, dan agama saya juga warisan. Untungnya, saya belum pernah bersitegang dengan orang-orang yang memiliki warisan berbeda-beda karena saya tahu bahwa mereka juga tidak bisa memilih apa yang akan mereka terima sebagai warisan dari orangtua dan negara.
Setelah beberapa menit kita lahir, lingkungan menentukan agama, ras, suku, dan kebangsaan kita. Setelah itu, kita membela sampai mati segala hal yang bahkan tidak pernah kita putuskan sendiri.

Sejak masih bayi saya didoktrin bahwa Islam adalah satu-satunya agama yang benar. Saya mengasihani mereka yang bukan muslim, sebab mereka kafir dan matinya masuk neraka. Ternyata, Teman saya yang Kristen juga punya anggapan yang sama terhadap agamanya. Mereka mengasihani orang yang tidak mengimani Yesus sebagai Tuhan, karena orang-orang ini akan masuk neraka, begitulah ajaran agama mereka berkata.

Maka,
Bayangkan jika kita tak henti menarik satu sama lainnya agar berpindah agama, bayangkan jika masing-masing umat agama tak henti saling beradu superioritas seperti itu, padahal tak akan ada titik temu.
Jalaluddin Rumi mengatakan, "Kebenaran adalah selembar cermin di tangan Tuhan; jatuh dan pecah berkeping-keping. Setiap orang memungut kepingan itu, memperhatikannya, lalu berpikir telah memiliki kebenaran secara utuh."

Salah satu karakteristik umat beragama memang saling mengklaim kebenaran agamanya. Mereka juga tidak butuh pembuktian, namanya saja "iman".
Manusia memang berhak menyampaikan ayat-ayat Tuhan, tapi jangan sesekali mencoba jadi Tuhan. Usah melabeli orang masuk surga atau neraka sebab kita pun masih menghamba.

Latar belakang dari semua perselisihan adalah karena masing-masing warisan mengklaim, "Golonganku adalah yang terbaik karena Tuhan sendiri yang mengatakannya".
Lantas, pertanyaan saya adalah kalau bukan Tuhan, siapa lagi yang menciptakan para Muslim, Yahudi, Nasrani, Buddha, Hindu, bahkan ateis dan memelihara mereka semua sampai hari ini?

Tidak ada yang meragukan kekuasaan Tuhan. Jika Dia mau, Dia bisa saja menjadikan kita semua sama. Serupa. Seagama. Sebangsa.
Tapi tidak, kan?
Apakah jika suatu negara dihuni oleh rakyat dengan agama yang sama, hal itu akan menjamin kerukunan? Tidak!
Nyatanya, beberapa negara masih rusuh juga padahal agama rakyatnya sama.
Sebab, jangan heran ketika sentimen mayoritas vs. minoritas masih berkuasa, maka sisi kemanusiaan kita mendadak hilang entah kemana.

Bayangkan juga seandainya masing-masing agama menuntut agar kitab sucinya digunakan sebagai dasar negara. Maka, tinggal tunggu saja kehancuran Indonesia kita.

Karena itulah yang digunakan negara dalam mengambil kebijakan dalam bidang politik, hukum, atau kemanusiaan bukanlah Alquran, Injil, Tripitaka, Weda, atau kitab suci sebuah agama, melainkan Pancasila, Undang-Undang Dasar '45, dan semboyan Bhinneka Tunggal Ika.

Dalam perspektif Pancasila, setiap pemeluk agama bebas meyakini dan menjalankan ajaran agamanya, tapi mereka tak berhak memaksakan sudut pandang dan ajaran agamanya untuk ditempatkan sebagai tolok ukur penilaian terhadap pemeluk agama lain. Hanya karena merasa paling benar, umat agama A tidak berhak mengintervensi kebijakan suatu negara yang terdiri dari bermacam keyakinan.

Suatu hari di masa depan, kita akan menceritakan pada anak cucu kita betapa negara ini nyaris tercerai-berai bukan karena bom, senjata, peluru, atau rudal, tapi karena orang-orangnya saling mengunggulkan bahkan meributkan warisan masing-masing di media sosial.
Ketika negara lain sudah pergi ke bulan atau merancang teknologi yang memajukan peradaban, kita masih sibuk meributkan soal warisan.

Kita tidak harus berpikiran sama, tapi marilah kita sama-sama berpikir.

------- The End -------
FYI : Jadi Viral, Plagiat, Dibully

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Album Gambar



Assalamualaikum.
Karena di Instagram saja belum cukup untuk menyimpan kumpulan hasil karyaku, jadi aku bikin blog album lagi.
Langsung saja, kunjungi blog aku di


http://heldalorymobilecaptures.blogspot.

Terimakasih


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Kutipan Kecil

Merayakan pernikahan yang kedua puluh dan sampai sekarang, setiap hari aku masih tak sabar menunggunya pulang.
Selalu saja ada kehangatan. Anak-anak juga merasakannya. "Ayah pulang!" biasanya mereka selalu berteriak seperti itu.

Tatapannya saat kami terpaksa terpisah dalam suatu acara, sentuhannya di bahu saat ia memijatku, cincin kawin yang selalu melingkar dijarinya, kopi pagi hari yang dibuat sesuai seleraku, semua hal-hal sederhana yang begitu berharga.

Aku menyakini indahnya pengorbanan, agungnya kesetiaan, dan mulianya kepercayaan.
Aku menyakini janji-janji. Aku menyakini keabadian.
Itulah bintang-bintang yang dapat aku dan suamiku temukan di mata masing-masing. Tak perlu bunga mawar.
.
.
.

~ Tak Perlu Bunga Mawar ~

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS