Kutipan Kecil

Merayakan pernikahan yang kedua puluh dan sampai sekarang, setiap hari aku masih tak sabar menunggunya pulang.
Selalu saja ada kehangatan. Anak-anak juga merasakannya. "Ayah pulang!" biasanya mereka selalu berteriak seperti itu.

Tatapannya saat kami terpaksa terpisah dalam suatu acara, sentuhannya di bahu saat ia memijatku, cincin kawin yang selalu melingkar dijarinya, kopi pagi hari yang dibuat sesuai seleraku, semua hal-hal sederhana yang begitu berharga.

Aku menyakini indahnya pengorbanan, agungnya kesetiaan, dan mulianya kepercayaan.
Aku menyakini janji-janji. Aku menyakini keabadian.
Itulah bintang-bintang yang dapat aku dan suamiku temukan di mata masing-masing. Tak perlu bunga mawar.
.
.
.

~ Tak Perlu Bunga Mawar ~

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Kutipan Kecil

Setelah pernikahannya, mereka selalu menuliskan tingkah laku masing-masing dalam sebuah catatan kecil.
Yaa...awalnya memang kecil, namun setelah hampir dua puluh lima tahun bersama, catatan itu menjadi semakin menumpuk dengan ratusan bahkan ribuan entri didalamnya.

Salah satu entri dari suami berbunyi: "Hari ini suami sangat bahagia. Sepertinya swalayan sedang mengadakan promosi daging panggang, beli satu gratis satu. Kulkas kami pasti cukup menampung persediaan untuk satu bulan."

Entri yang sangat mengejutkan: "Hari ini isteriku seksi sekali."
.
.
.
~ Cintaku Bagai Tinta Merah ~

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS