Kutipan Kecil

Merayakan pernikahan yang kedua puluh dan sampai sekarang, setiap hari aku masih tak sabar menunggunya pulang.
Selalu saja ada kehangatan. Anak-anak juga merasakannya. "Ayah pulang!" biasanya mereka selalu berteriak seperti itu.

Tatapannya saat kami terpaksa terpisah dalam suatu acara, sentuhannya di bahu saat ia memijatku, cincin kawin yang selalu melingkar dijarinya, kopi pagi hari yang dibuat sesuai seleraku, semua hal-hal sederhana yang begitu berharga.

Aku menyakini indahnya pengorbanan, agungnya kesetiaan, dan mulianya kepercayaan.
Aku menyakini janji-janji. Aku menyakini keabadian.
Itulah bintang-bintang yang dapat aku dan suamiku temukan di mata masing-masing. Tak perlu bunga mawar.
.
.
.

~ Tak Perlu Bunga Mawar ~

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 comments: